Pria Bermata Sipit
Pria bermata sipit itu bersenandung lirih menyusuri perkampungan. Hampir setiap pagi aku menyapanya dalam hati saat pria itu melewati depan rumahku. Sudah lama aku memperhatikannya dari jendela berkaca bening yang sesungguhnya gelap jika dilihat dari luar. Sudah 2 tahun kiranya aku tinggal di Jimbaran Bali, sebenarnya aku berasal dari Jawa tengah. Karena tuntutan pekerjaan ayahku yang mengharuskan pindah ke Bali, kami pun ikut pindah, waktu itu aku masih kelas 1 SMA. Tentu aku harus pindah sekolah juga, merelakan teman dan sahabatku di sana. Tidak mudah untuk menyesuaikan diri di kota ini. Banyak sekali hal-hal yang harus aku maklumi, dari agama, adat dan lingkungannya. Hari demi hari, aku mulai terbiasa dengan keadaan yang seperti ini.
Siang itu ditemani dengan awan mendung, waktu menunjukan pukul 13.45 WITA ketika aku pulang sekolah di tepi jalan dengan wajah tak bersemangat aku menatap lesu kedepan dan melihat pria bermata sipit itu sedang berjalan dengan santai. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun cukup menarik perhatianku. Sebelumnya aku hanya bisa melihatnya dari jauh, dan kini aku memberanikan diri untuk menyapanya. Senyumnya ramah ketika aku berjalan bersebelahan dengannya. Dengan sedikit malu aku balas senyumnya. "Hai" ucapku dengan nada ragu. "Halo" pria bermata sipit itu menoleh kearahku sembari membalas salam. "Aku Nayla Nadif, salam kenal ya" aku memperkenalkan diri dengan menyodorkan tanganku berharap untuk bisa bersalaman dengannya. Pria bermata sipit itu tampak kaget melihat aku yang tiba-tiba mengajaknya berkenalan. "Oh, ya, salam kenal juga. Aku Reyhan, I Putu Reyhan Sanjaya" balasnya sambil meraih tanganku dan menjabatnya. "Kuliah di UNUD (Universitas Udayana), ya?" tanyaku dengan rasa penasaran. "Iya, baru semester 1. Oh iya, Kamu kelas berapa?" dia menjawab dengan santai. " Ambil jurusan apa ? Eh, aku baru kelas 3 SMA, hehe" jawabku sambil membenarkan tali tasku. "Sastra Indonesia, wah sebentar lagi lulus nih" jawabnya sambil melirikku. Kami pun mengobrol dengan topik seadanya hingga tak terasa sudah sampai di depan rumahku. Aku pun melambaikan tangan kepadanya dan masuk kedalam rumah. Sesampainya di rumah senyumku mekar selalu sehingga ibu menegurku. "Kenapa sih, kok dari tadi senyum-senyum terus?" tanya ibu sambil menyelidik ke arahku. "Eh, Ngga papa kok Mah, hehe" jawabku sambil malu-malu. "Ya sudah cepat ganti baju terus makan siang" perintahnya kepadaku. Dengan langkah bersemangat aku menaiki anak tangga dan masuk ke kamar. Masih terbayang senyumnya yang menawan ditambah dengan mata sipitnya membuat jantungku berdegup kencang.
Pagi yang cerah walau sejatinya tidak secerah yang dibayangkan aku berangkat kesekolah dengan wajah yang berseri. Tiba saatnya pulang sekolah dan aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Reyhan si pemilik mata sipit itu. Seperti yang diharapkan, aku pun bertemu lagi dengannya. Seperti biasa, kita mengobrol bersama dan akhirnya kami bertukar nomor whatsapp. Sesampainya di rumah aku menunggu kabar dari Reyhan lewat Whatsapp sambil berbaring di tempat tidur yang cukup nyaman bagiku. Tak diduga-duga Reyhan mengirim pesan untuk pertama kalinya. Betapa senangnya hatiku sampai aku tak mau beranjak dari tempat tidur. Kami pun mulai asyik mengobrol entah apa yang diobrolkan, pokoknya aku senang bisa berkenalan sedekat ini dengannya. Waktu demi waktu, hari demi hari hubungan kami semakin dekat dan pada akhirnya pria bermata sipit itu mengutarakan perasaannya dan mengajakku berpacaran. "Nayla, aku suka sama kamu, maukah kamu jadi pacarku?" ucapnya dengan nada serius. "Aku juga suka sama kamu, Rey. "Aku mau jadi pacarmu" jawabku dengan malu-malu. Pria bermata sipit yang dulunya hanya bisa kulihat dari jendela kini telah menjadi milikku. Kami sering menghabiskan waktu bersama untuk berjalan-jalan walau sekedar menemani membeli buku pendukung perkuliahannya. Hubungan kami tak seromantis dan tak semewah seperti pasangan lain. Kami hanya mencari kesenangan dan kenyamanan dalam suatu hubungan. Hingga masalah baru muncul pada hubungan kami. Ayahku lagi-lagi dipindah tugaskan ke Pulau Jawa untuk waktu yang cukup lama. Mau tidak mau aku dan keluargaku ikut pindah. Aku mulai risau, haruskah aku merelakan hubunganku dengan melakukan hubungan jarak jauh. Tanyaku dalam hati dengan perasaan kalut. Aku pun memberanikan diri berbicara dengan Reyhan perihal pindah rumah.
Reyhan menjawab dengan wajah serius dan tatapan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. "Ya sudah, kita akhiri sampai di sini saja. Aku tidak bisa berhubungan jarak jauh, mungkin memang kita belum berjodoh". Sungguh itu suatu pukulan yang sangat keras mengena ke dalam hati dan pikiranku. Walaupun aku tidak rela, tetapi aku tidak bisa menentang keputusannya. Akhirnya aku meng-iya-kan keputusannya itu "Ya sudah kalau itu yang terbaik untukmu" sambil mengusap air mata yang turut jatuh menghiasi pipiku. Tanpa basa-basi aku langsung meninggalkannya, merasa kecewa dengan keputusannya. Jika memang dia serius, pasti apa pun akan dilakukannya walau harus menebas jarak.
Dua tahun kemudian setelah pindah ke Pulau Jawa, aku mulai terbiasa dengan keadaan. Pikiranku tentang Reyhan pria Bali bermata sipit itu semakin memudar. Saat ini aku melanjutkan study di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) dan entah mengapa aku tertarik untuk mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Suatu ketika saat semester 4, aku menempuh mata kuliah KKL (Kuliah Kerja Lapangan) yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa. Sungguh diluar dugaan bahwa pilihan KKL adalah Bali. Terbesit dipikiranku semua tentang Reyhan. Tapi apa boleh buat. Mau tidak mau aku harus mengikuti alurnya.
Embun pagi ditambah semilir angin yang sejuk menemani perjalananku menuju ke Bali. Aku menatap lesu jalanan dari balik kaca bus yang melaju cukup kencang. Suara musik dan gemuruh teman di bus tidak sempat aku perhatikan. Yang ada dalam pikiranku adalah bagaimana aku menghadapi Bali yang menyimpan kenangan manis serta pahitku. Kenangan yang dulu terkubur, kini tumbuh kembali memenuhi pikiranku. Sesampainya di Bali, aku mengganti jam tanganku karena perbedaan di pulau jawa yaitu satu jam. Hari pertama kami menuju ke tempat wisata, aku cukup terhibur dan menghilangkan penat sejenak di sana. Setelah itu karena waktu menunjukan pukul 22.37 WITA, kami check in di Hotel Quest untuk beristirahat. Paginya, kami menghadiri acara seminar di IKIP PGRI Bali. Acara berjalan lancar hingga hari teakhir kami menuju pusat oleh-oleh dan lanjut perjalanan pulang. Sebelum pulang, kami mampir ke Jimbaran untuk makan siang. Sungguh diluar dugaan, semua hal-hal yang terkait pada kisahku satu tahun silam dengan pria bermata sipit itu menguasai pikiranku. Kini aku menginjakkan kakiku kembali di Pulau Bali kota Jimbaran, tidak dengan keluarga atau pun pria bermata sipit itu, tapi dengan kenangan.
Pria bermata sipit itu bersenandung lirih menyusuri perkampungan. Hampir setiap pagi aku menyapanya dalam hati saat pria itu melewati depan rumahku. Sudah lama aku memperhatikannya dari jendela berkaca bening yang sesungguhnya gelap jika dilihat dari luar. Sudah 2 tahun kiranya aku tinggal di Jimbaran Bali, sebenarnya aku berasal dari Jawa tengah. Karena tuntutan pekerjaan ayahku yang mengharuskan pindah ke Bali, kami pun ikut pindah, waktu itu aku masih kelas 1 SMA. Tentu aku harus pindah sekolah juga, merelakan teman dan sahabatku di sana. Tidak mudah untuk menyesuaikan diri di kota ini. Banyak sekali hal-hal yang harus aku maklumi, dari agama, adat dan lingkungannya. Hari demi hari, aku mulai terbiasa dengan keadaan yang seperti ini.
Siang itu ditemani dengan awan mendung, waktu menunjukan pukul 13.45 WITA ketika aku pulang sekolah di tepi jalan dengan wajah tak bersemangat aku menatap lesu kedepan dan melihat pria bermata sipit itu sedang berjalan dengan santai. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun cukup menarik perhatianku. Sebelumnya aku hanya bisa melihatnya dari jauh, dan kini aku memberanikan diri untuk menyapanya. Senyumnya ramah ketika aku berjalan bersebelahan dengannya. Dengan sedikit malu aku balas senyumnya. "Hai" ucapku dengan nada ragu. "Halo" pria bermata sipit itu menoleh kearahku sembari membalas salam. "Aku Nayla Nadif, salam kenal ya" aku memperkenalkan diri dengan menyodorkan tanganku berharap untuk bisa bersalaman dengannya. Pria bermata sipit itu tampak kaget melihat aku yang tiba-tiba mengajaknya berkenalan. "Oh, ya, salam kenal juga. Aku Reyhan, I Putu Reyhan Sanjaya" balasnya sambil meraih tanganku dan menjabatnya. "Kuliah di UNUD (Universitas Udayana), ya?" tanyaku dengan rasa penasaran. "Iya, baru semester 1. Oh iya, Kamu kelas berapa?" dia menjawab dengan santai. " Ambil jurusan apa ? Eh, aku baru kelas 3 SMA, hehe" jawabku sambil membenarkan tali tasku. "Sastra Indonesia, wah sebentar lagi lulus nih" jawabnya sambil melirikku. Kami pun mengobrol dengan topik seadanya hingga tak terasa sudah sampai di depan rumahku. Aku pun melambaikan tangan kepadanya dan masuk kedalam rumah. Sesampainya di rumah senyumku mekar selalu sehingga ibu menegurku. "Kenapa sih, kok dari tadi senyum-senyum terus?" tanya ibu sambil menyelidik ke arahku. "Eh, Ngga papa kok Mah, hehe" jawabku sambil malu-malu. "Ya sudah cepat ganti baju terus makan siang" perintahnya kepadaku. Dengan langkah bersemangat aku menaiki anak tangga dan masuk ke kamar. Masih terbayang senyumnya yang menawan ditambah dengan mata sipitnya membuat jantungku berdegup kencang.
Pagi yang cerah walau sejatinya tidak secerah yang dibayangkan aku berangkat kesekolah dengan wajah yang berseri. Tiba saatnya pulang sekolah dan aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Reyhan si pemilik mata sipit itu. Seperti yang diharapkan, aku pun bertemu lagi dengannya. Seperti biasa, kita mengobrol bersama dan akhirnya kami bertukar nomor whatsapp. Sesampainya di rumah aku menunggu kabar dari Reyhan lewat Whatsapp sambil berbaring di tempat tidur yang cukup nyaman bagiku. Tak diduga-duga Reyhan mengirim pesan untuk pertama kalinya. Betapa senangnya hatiku sampai aku tak mau beranjak dari tempat tidur. Kami pun mulai asyik mengobrol entah apa yang diobrolkan, pokoknya aku senang bisa berkenalan sedekat ini dengannya. Waktu demi waktu, hari demi hari hubungan kami semakin dekat dan pada akhirnya pria bermata sipit itu mengutarakan perasaannya dan mengajakku berpacaran. "Nayla, aku suka sama kamu, maukah kamu jadi pacarku?" ucapnya dengan nada serius. "Aku juga suka sama kamu, Rey. "Aku mau jadi pacarmu" jawabku dengan malu-malu. Pria bermata sipit yang dulunya hanya bisa kulihat dari jendela kini telah menjadi milikku. Kami sering menghabiskan waktu bersama untuk berjalan-jalan walau sekedar menemani membeli buku pendukung perkuliahannya. Hubungan kami tak seromantis dan tak semewah seperti pasangan lain. Kami hanya mencari kesenangan dan kenyamanan dalam suatu hubungan. Hingga masalah baru muncul pada hubungan kami. Ayahku lagi-lagi dipindah tugaskan ke Pulau Jawa untuk waktu yang cukup lama. Mau tidak mau aku dan keluargaku ikut pindah. Aku mulai risau, haruskah aku merelakan hubunganku dengan melakukan hubungan jarak jauh. Tanyaku dalam hati dengan perasaan kalut. Aku pun memberanikan diri berbicara dengan Reyhan perihal pindah rumah.
Reyhan menjawab dengan wajah serius dan tatapan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. "Ya sudah, kita akhiri sampai di sini saja. Aku tidak bisa berhubungan jarak jauh, mungkin memang kita belum berjodoh". Sungguh itu suatu pukulan yang sangat keras mengena ke dalam hati dan pikiranku. Walaupun aku tidak rela, tetapi aku tidak bisa menentang keputusannya. Akhirnya aku meng-iya-kan keputusannya itu "Ya sudah kalau itu yang terbaik untukmu" sambil mengusap air mata yang turut jatuh menghiasi pipiku. Tanpa basa-basi aku langsung meninggalkannya, merasa kecewa dengan keputusannya. Jika memang dia serius, pasti apa pun akan dilakukannya walau harus menebas jarak.
Dua tahun kemudian setelah pindah ke Pulau Jawa, aku mulai terbiasa dengan keadaan. Pikiranku tentang Reyhan pria Bali bermata sipit itu semakin memudar. Saat ini aku melanjutkan study di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) dan entah mengapa aku tertarik untuk mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Suatu ketika saat semester 4, aku menempuh mata kuliah KKL (Kuliah Kerja Lapangan) yang wajib diikuti oleh semua mahasiswa. Sungguh diluar dugaan bahwa pilihan KKL adalah Bali. Terbesit dipikiranku semua tentang Reyhan. Tapi apa boleh buat. Mau tidak mau aku harus mengikuti alurnya.
Embun pagi ditambah semilir angin yang sejuk menemani perjalananku menuju ke Bali. Aku menatap lesu jalanan dari balik kaca bus yang melaju cukup kencang. Suara musik dan gemuruh teman di bus tidak sempat aku perhatikan. Yang ada dalam pikiranku adalah bagaimana aku menghadapi Bali yang menyimpan kenangan manis serta pahitku. Kenangan yang dulu terkubur, kini tumbuh kembali memenuhi pikiranku. Sesampainya di Bali, aku mengganti jam tanganku karena perbedaan di pulau jawa yaitu satu jam. Hari pertama kami menuju ke tempat wisata, aku cukup terhibur dan menghilangkan penat sejenak di sana. Setelah itu karena waktu menunjukan pukul 22.37 WITA, kami check in di Hotel Quest untuk beristirahat. Paginya, kami menghadiri acara seminar di IKIP PGRI Bali. Acara berjalan lancar hingga hari teakhir kami menuju pusat oleh-oleh dan lanjut perjalanan pulang. Sebelum pulang, kami mampir ke Jimbaran untuk makan siang. Sungguh diluar dugaan, semua hal-hal yang terkait pada kisahku satu tahun silam dengan pria bermata sipit itu menguasai pikiranku. Kini aku menginjakkan kakiku kembali di Pulau Bali kota Jimbaran, tidak dengan keluarga atau pun pria bermata sipit itu, tapi dengan kenangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar