Senin, 02 April 2018


Nama : Arsyka Ferlian Mindy
Kelas : 4D
NPM : 16410168

Ulasan Cerita Pendek  “Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata Cemerlang”

Cerpen ini adalah karya dari A. Mustofa Bisri, bercerita tentang kisah pemuda atau tokoh Aku yang ingin menepati janji kepada kenalannya yang bernama Sahlan. Tokoh Aku ini  penasaran kepada gadis kecil beralis tebal dan bermata cemerlang yang menatap lurus kepadanya tanpa berkedip dan tanpa ada ekspresi apa pun. Tokoh Aku melihat gadis itu sedang berada di peron saat menunggu keretanya datang. Pikirannya selalu mengarah kepada gadis kecil beralis tebal bermata cemerlang yang ia lihat di stasiun S tadi.

Cerpen ini menceritakan tentang tokoh Aku yang sedang menunggu kereta di stasiun S untuk menuju ke stasiun J guna memenuhi janji untuk berkunjung ke rumah kenalannya. Dalam penantiannya, ia melihat seorang gadis kecil beralis tebal dan bermata cemerlang sedang memperhatikannya dengan wajah tanpa ekspresi dan tatapan yang seolah tak mau lepas melihat ke arah tokoh Aku. Saat keretanya datang hingga sampai di stasiun S ia masih memikirkan gadis kecil beralis tebal dam bermata cemerlang. Sesampainya di saya ia segera memesan taksi untuk menuju ke rumah kenalannya yang bernama Sahlan. 

Saat tiba di rumah Sahlan, ia disuguhi berbagai macam makanan dan Sahlan mempersilahkan untuk mandi. Saat menuju kamar mandi, ia mendengar suara gadis sedang bernyanyi lagu india yang ia sangka adalah gadis Sahlan dan ternyata gadis itu mempunyai alis yang tebal dan bermata cemerlang. Ia pun mulai tertarik kepada gadis itu. Saat makan malam tiba, Sahlan memperkenalkan gadis beralis tebal dan mermata cemerlang itu, tak disangka gadis itu adalah istri Sahlan yang bernama Shakila. Tokoh Aku mulai merasa kecewa karena ia mengira adik yang di ceritakan Sahlan bukanlah adik kandungnya tetapi adalah istri.

Sahlan akhirnya bercerita tentang istrinya yang istimewa karena dia berbicara tidak menggunakan mulut, mulutnya digunakan untuk tersenyum dan bernyanyi. Sahlan menceritakan bagaimana awalnya mereka bertemu dan menikah. Sahlan bertemu gadis beralis tebal dan bermata cemerlang itu di stasiun S dan beberapa tahun kemudian setelah Sahlan pulang ke M ibunya memperkenalkannya dengan anak kawannya. Shakila adalah gadis yang di pungut oleh kawan ibu  Sahlan sejak bayi dan ditemukan di stasiun S kemudian diberi nama India yaitu Shakila. Saat Sahlan bercerita, tokoh aku melihat secara tiba-tiba gadis kecil beralis tebal dan bermata cemerlang yang ditemuinya saat di Stasiun S datang, entah dari mana, dan tersenyum manis sekali kepada tokoh Aku.

Cerpen ini sangat menarik, penulis mampu membawa pembaca ke dalam suasana penasaran yang terjadi dalam cerita. Dalam cerita ini penulis dapat membuat para pembaca semakin penasaran saat membaca dari awal sampai akhir, tetapi rasa penasaran itu tak terobati karena penulis tidak menjelaskan dengan pasti apa yang terjadi pada akhir cerita tersebut, seperti pada kalimat akhir “tiba-tiba gadis kecil beralis tebal dan bermata cemerlang datang, entah dari mana, dan tersenyum manis sekali.” Pembaca merasa penasaran mengapa tokoh aku bernasib sama dengan Sahlan yang mempunyai istri sama seperti gadis kecil yang ada di stasiun S.

Dalam cerpen “Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata Cemerlang” ini terdapat beberapa penulisan yang salah seperti pada awal cerpen, penulis tidak konsisten dalam penulisan pada paragraf pertama menggunakan kata “Saya” tetapi pada paragraf selanjutnya, menggunakan kata “Aku”. Dalam cerpen ini, penulis juga melakukan kesalahan dalam penulisan pada paragraf pertama kata “ncrka” seharusnya “nerka” dan pada kata “haru” yang seharusnya “baru”. Seharusnya, penulis sangat berhati-hati dan teliti dalam penulisan teks agar pembaca tidak salah mengartikan.

Cerpen yang berjudul Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata Cemerlang, tetapi cerpen ini bukanlah cerpen yang bergenre anak-anak. A. Mustofa Bisri mengemas cerpen ini menjadi cerita yang misterius, susah untuk ditebak dan membuat setiap pembaca penasaran saat memahami maksud dari cerita pendek ini setelah membaca akhir dari paragraf cerpen. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar